By artikel : Andrewho
Alkisah, ada seorang petani tersesat di sebuah hutan. Ia sudah berusaha mencari jalan keluar dari hutan tersebut, tetapi selalu gagal. Ketika energinya sudah benar-benar terkuras, tiba-tiba ia dihadang seekor singa yang sedang lapar.
Dalam keadaan yang sangat terjepit, tak ada tenaga dan tak tahu
jalan keluar, petani itu hanya dapat mengingat Tuhannya. Ia segera
menengadahkan kedua tangan untuk berdoa. Ia sangat berharap akan ada keajaiban
yang membebaskan dirinya dari celaka.
Pada saat yang bersamaan, singa itu menengadahkan dua kaki
depannya dan berdo’a. Sang petani heran dan berbisik dalam hati,“Apakah singa
ini berdo’a agar dimaafkan kesalahannya?” Padahal sebenarnya singa itu sedang
berdoa, “Ya Tuhanku, terima kasih atas kemurahan hati-Mu. Hari ini Engkau telah
menyediakan santapan yang begitu lezat untukku!”
Pesan:
Pesan:
Jangan terlalu cepat membuat asumsi karena mengandung resiko
kesalahan yang besar, dan itu sangat membahayakan diri kita. Petani itu terlalu
cepat berasumsi bahwa binatang singa tidak akan memakannya. Padahal sebaliknya,
singa adalah binatang buas yang sedang berterima kasih kepada Tuhannya dan
bersiap menyantap sang petani.
Keputusan untuk mengikuti asumsi yang keliru tak ayal akan
menyebabkan sang petani celaka. Ia justru tetap berada di tempat, menunggu
detik-detik celaka benar-benar menyergapnya. Bagaimanapun juga seharusnya ia
berlari kencang atau mencari cara lain untuk melarikan diri. Tetapi kita tentu
maklum dalam keadaan yang bingung, takut, sekaligus pasrah seperti yang dialami
oleh sang petani sangat kecil kemungkinan ia dapat berasumsi dengan tepat.
Sama seperti kehidupan kita sehar-hari, jangan pernah membuat
kesimpulan dalam keadaan diri kita sedang labil, misalnya bingung, putus asa,
marah, kecewa, cemburu ataupun sedang mengalami perasaan tidak nyaman lainnya.
Dalam keadaan diri kita sedang labil, sangat mungkin asumsi kita keliru dan
mendorong suatu tindakan yang membahayakan diri kita. Begitupun bila kita
melihat tingkah laku ataupun perkataan orang lain, jangan terburu-buru membuat
kesimpulan bahwa orang itu baik atau buruk.
Pada dasarnya membaca isi hati atau pikiran seseorang tidaklah
semudah membaca cerita bergambar. Kesimpulan yang keliru akan menguras energi,
yang seharusnya bisa kita manfaatkan untuk berkreasi, berkarya atau menciptakan
perubahan positif lainnya. Lebih dari itu, tindakan yang keliru sangat mudah
memicu ketegangan, perselisihan, demo, pengrusakan dan bahkan peperangan.
Tetapi bukan berarti kita harus takut untuk segera membuat
keputusan berdasarkan kesimpulan-kesimpulan yang telah kita dapatkan. Kita akan
mendapatkan keuntungan yang jauh lebih besar bila kita juga berkemauan untuk
mempertanggung jawabkan atau mengoreksi kembali segala kesimpulan yang telah
kita ciptakan. “Incorrect assumptions lie at the root of every failure.
Have the courage to test your assumption. – Asumsi atau kesimpulan yang keliru
merupakan penyebab utama dari setiap kegagalan. Oleh sebab itu jangan pernah
takut untuk mengoreksi kembali apakah kesimpulan yang telah kita ciptakan itu
benar ataukah tidak,” terang Brian Tracy.
Berhati-hatilah dalam menciptakan suatu kesimpulan. Andaikan
masih terdapat kesalahan, kita harus dapat belajar dari kesalahan itu agar
lebih berhati-hati dalam langkah selanjutnya. “Success is the result of
good judgement, good judgement is a result of experience, experience is often
the result of bad judgement. – Sukses berasal dari kesimpulan yang tepat,
kesimpulan yang tepat berasal dari pengalaman, pengalaman seringkali berasal
dari kesimpulan yang keliru,” jelas Socrates.
Kita bisa banyak belajar dari proses untuk mengendalikan
sifat-sifat atau pemikiran kita yang negatif. “I have learned throughout my
life as a composer chiefly through my mistakes and pursuits of false
assumptions, not by my exposure to founts of wisdom and knowledge. – Saya telah
belajar dari kehidupan ini sebagai seorang pencipta lagu, balajar lewat
kesalahan dan kesimpulan keliru yang pernah saya lakukan, tidak belajar dari
pengalaman saya telah menciptakan suatu keputusan yang mengandung kebijaksanaan
ataupun pengetahuan,” terang Igor Stravinsky. Belajar dari kesalahan
adalah satu langkah yang paling bijaksana untuk dapat memaknai segala bentuk pesan
dengan tepat, misalnya pesan yang berasal dari ucapan, pergerakan mata, badan,
intonasi suara, ekspresi dan emosi lawan bicara ataupun dari setiap gejala yang
ada.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar