By artikel : Andrewho
Di sebuah situs internet diungkapkan kisah fiksi tentang seorang tentara bernama kopral Yono. Saat itu sekitar jam 7 malam, ia duduk melamun. Pandangannya kosong, sembari tangannya mengaduk es teh. Salah seorang temannya, sebut saja Ricky, tiba-tiba menyambar minuman yang sedang ia aduk. Tanpa basa-basi, Ricky langsung menenggak isi gelas itu sampai tak tersisa sedikitpun.
Sebenarnya Ricky hanya bermaksud
bercanda. Bukannya marah atau tersenyum, tetapi Yono justru menangis
meraung-raung sambil beruraian air mata. Kontan reaksi Yono membuat Ricky panik.
“Kamu nih cengeng banget sih? Katanya kamu tentara? Masa sih gara-gara es
teh, kamu nangis keras begitu,” komentar Ricky diantara perasaan kesal dan
bingung.
“Kenapa seharian ini hidupku kok
apes terus?” rintih kopral Yono sambil terus
menangis.
“Kamu kenapa? Ceritakan saja, siapa
tahu aku bisa menolongmu,” kata
Ricky penuh empati pada karibnya itu.
“Tadi
pagi aku dipecat, gara-gara teledor menghilangkan senjata komandan,” kata Yono diselingi isak tangis.
“Ah gitu aja dipikir. Body-mu kan
tinggi besar kuat perkasa. Kamu pasti masih laku jadi pengawal pribadi atau
minimal jadi preman pasar,” ujar
Ricky berusaha membesarkan hati sahabatnya.
“Itu sih belum seberapa. Tadi pagi
habis dipecat, aku langsung pulang ke rumah. Tapi pas aku masuk kamar, ternyata
aku memergoki istriku selingkuh dengan teman kerjaku sendiri,” ucap kopral Yono pelan. Air matanya terus mengucur deras.
Ekspresi Yono mengisyarakan beban di hatinya benar-benar berat.
“Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Kelakuan istrimu kan memang selalu begitu (selingkuh). Baiknya kamu cepat-cepat ceraikan dia. Masih banyak kok wanita cantik, pintar, kaya dan setia yang bersedia menjadi istrimu,” timpal Ricky memberi semangat.
“Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Kelakuan istrimu kan memang selalu begitu (selingkuh). Baiknya kamu cepat-cepat ceraikan dia. Masih banyak kok wanita cantik, pintar, kaya dan setia yang bersedia menjadi istrimu,” timpal Ricky memberi semangat.
“Itu sih belum seberapa. Aku sudah
putus asa, ingin mati saja. Makanya aku beli racun potas (racun tikus), terus
aku campurkan ke minuman es teh tadi. Eh belum sempat aku minum, sudah kamu
habiskan,” kata kopral Yono kemudian menangis
sejadi-jadinya.
“Hhaaahhh……???!!!,” desis Ricky ternganga. Pantas saja Yono begitu terpukul.
Pesan :
Dalam kehidupan sehari-hari kita
juga sering dihadapkan pada persoalan-persoalan-persoalan yang sulit. Bahkan
ada beberapa diantara persoalan tersebut yang membuat kita hampir putus asa.
Yono dalam kisah di atas adalah satu diantara gambaran orang-orang yang putus
asa atau pesimis, karena disaat ditimpa kemalangan ia tidak mampu lagi berpikir
positif tentang diri dan dunia di sekitarnya.
Sikap pesimis adalah sikap yang
memandang penderitaan hidup ini sebagai beban yang tidak akan pernah berakhir.
Sikap demikian sangatlah berbahaya, tak hanya bagi diri kita sendiri tetapi
juga orang lain. Dalam kisah di atas dicontohkan, seandainya kopral itu tidak
bersikap pesimis, mungkin Ricky tak harus menelan racun potas dalam es tehnya.
Bisa jadi mata rantai kemalangan yang terus dihadapi Yono sebenarnya merupakan
dampak dari sikapnya yang pesimis sejak awal.
Belajar dari kebodohan Yono yang memilih pesimistis, kita haruslah mencoba bersikap lebih bijaksana dalam menghadapi masa-masa sulit. Salah satu langkah yang dapat kita tempuh adalah menanamkan dalam pikiran kita bahwa masa-masa sulit yang mesti kita hadapi dalam kehidupan ini tidak akan berlangsung selamanya, melainkan hanya sementara saja. Dengan demikian, kita akan dapat melihat sisi terang dari kehidupan ini.
Belajar dari kebodohan Yono yang memilih pesimistis, kita haruslah mencoba bersikap lebih bijaksana dalam menghadapi masa-masa sulit. Salah satu langkah yang dapat kita tempuh adalah menanamkan dalam pikiran kita bahwa masa-masa sulit yang mesti kita hadapi dalam kehidupan ini tidak akan berlangsung selamanya, melainkan hanya sementara saja. Dengan demikian, kita akan dapat melihat sisi terang dari kehidupan ini.
Lawan dari pesimisme adalah
optimisme, sangat diperlukan untuk meraih kehidupan yang lebih bahagia dan
berhasil. “For myself, I am an optimist--it does not seem to be much use
being anything else. – Bagi saya sendiri, saya adalah seorang yang penuh
optimisme – karena tak akan lebih menguntungkan dengan menjadi yang lain,”
kata Winston Churcill. Karena rasa optimis adalah sumber kekuatan untuk mencari
berbagai solusi secara realistis dan semangat untuk melaksanakan
langkah-langkah perbaikan. Sehingga kemungkinan untuk meraih kehidupan yang
sukses dan bahagia akan jauh lebih besar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar